Home Berita Policy Brief: Mengoptimalkan Peran Perguruan Tinggi untuk Mengedukasi Mahasiswa tentang Pencegahan COVID-19...

Policy Brief: Mengoptimalkan Peran Perguruan Tinggi untuk Mengedukasi Mahasiswa tentang Pencegahan COVID-19 dan Mengatasi Hambatan Kegiatan Akademik secara Daring

140
0

Semarang (11/9) Provinsi Jawa Tengah, terutama Kota Semarang menjadi salah satu kota yang mengalami kenaikan kasus COVID-19 sangat signifikan dan cepat. Penularan COVID-19 dapat terjadi melalui kontak dekat (person-to-person), kontak dengan permukaan benda yang terkontaminasi virus COVID-19, atau melalui udara dalam ruangan tertutup (indoor airborne transmission). Oleh karena itu, untuk menghindari penyebaran COVID-19 yang semakin cepat dan meluas diterapkan protokol pencegahan COVID-19, seperti pembatasan (physical distancin) di lingkungan satuan pendidikan, khususnya di Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES, baik Prodi Kesehatan Masyarakat dan Gizi, berupa Work From Home (WFH). Penularan dapat terjadi di kalangan mahasiswa, mengingat pergerakan mahasiswa yang begitu aktif, baik dari segi jenis kegiatan maupun cakupan area. Di sisi lain, WFH menjadikan seluruh pembelajaran, baik perkuliahan dan bimbingan skripsi mengalami penyesuaian, dari yang semula luring menjadi daring. Penyesuaian ini dapat menimbulkan hambatan-hambatan bagi mahasiswa, baik dari segi penerimaan materi perkuliahan maupun keberlanjutan proposal atau skripsi mahasiswa. Evaluasi aktivitas mahasiswa WFH yang melibatkan banyak orang serta evaluasi kegiatan akademik, baik perkuliahan maupun bimbingan skripsi, perlu dilakukan guna memberikan masukan kepada pengambil kebijakan, dalam hal ini adalah Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES.

Evaluasi dilakukan dengan cara cross sectional yang menganalisis data secara kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan survei daring kepada mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat dan Gizi. Analisis kuantitatif mengevaluasi aktivitas mahasiswa selama WFH yang melibatkan banyak orang, sementara analisis kualitatif mengevaluasi kegiatan akademik, baik perkuliahan maupun bimbingan skripsi. Survei daring dilakukan selama 2 minggu pada bulan April 2020 kepada 634 mahasiswa, yang terdiri dari 457 mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat dan 177 mahasiswa Prodi Gizi. Baik data kuantitatif maupun kualitatif dikaji dan dikaitkan dengan kebijakan yang ada saat ini, dengan tujuan fokus pada peningkatan upaya upaya pencegahan COVID-19 dan keberlangsungan kegiatan akademik selama WFH.

Berdasarkan hasil survei aktivitas mahasiswa selama WFH yang melibatkan banyak orang, sebagian mahasiswa masih belum mematuhi protokol pencegahan COVID-19 dengan tidak melakukan aktivitas yang melibatkan banyak orang, seperti berkunjung ke rumah saudara, berbelanja di pasar dan mall, tidak menjaga jarak 1-2 meter ketika bertemu orang, bermain ke rumah tetangga/ teman, bepergian ke luar kota, menggunakan transportasi umum, mengunjungi fasilitas umum, dan beribadah di luar rumah. Hasil survei tersebut ditunjukkan dengan gambar di bawah ini.

Kebijakan WFH menjadikan perkuliahan dan proses bimbingan skripsi dilakukan dengan daring. Mahasiswa dan dosen harus melakukan perkuliahan melalui beberapa aplikasi yang mendukung untuk dilakukannya perkuliahan daring. Perkuliahan daring ini dilakukan agar mahasiswa tetap dapat memenuhi hak dan kewajibannya dalam mendapatkan materi perkuliahan sesuai dengan SKS yang ditempuhnya. Akan tetapi, dalam penerapan kuliah dan bimbingan skripsi secara daring ini menuai beberapa keluhan dari mahasiswa. Hasil evaluasi dari pelaksanaan kuliah dan bimbingan secara daring sebagai berikut:

  1. Mahasiswa menilai bahwa dalam pelaksanaannya, kuliah daring kurang efektif dilakukan. Hal ini karena materi perkuliahan tidak sepenuhnya dapat dipahami mahasiswa dan perkuliahan tidak dilakukan sesuai dengan jadwal yang seharusnya. Beberapa mata kuliah bahkan ada yang dilakukan di hari libur.
  2. Mahasiswa menilai bahwa seharusnya perkuliahan secara daring dilakukan dengan tatap muka melalui media daring bukan dengan mengganti pertemuan dengan tugas yang dikumpulkan secara daring.
  3. Mahasiswa menilai bahwa perkuliahan daring memakan kuota yang sangat banyak sehingga diharapkan ada subsidi kuota internet yang memadai.
  4. Mahasiswa menilai bahwa dengan kuliah daring membuat beberapa pengerjaan tugas kelompok sulit dikomunikasikan.
  5. Mahasiswa menilai bahwa adanya WFH membuat beberapa penelitian terhambat sehingga tidak dapat melanjutkan pengerjaan skripsi.
  6. Mahasiswa menilai bahwa dengan WFH, bimbingan skripsi menjadi tidak maksimal dan tidak mendapatkan feedback dari dosen dengan cepat.
  7. Mahasiswa menilai bahwa sistem pendukung kuliah daring seperti elena terkadang bermasalah (error) sehingga kurang mendukung akses untuk perkuliahan daring.
  8. Mahasiswa menilai bahwa dengan kuliah daring melalui video group kurang berjalan dengan lancar dikarenakan kendala koneksi dari masing-masing mahasiswa.
  9. Mahasiswa menilai bahwa sebelum memberikan tugas hendaknya diberikan materi dan penjelasan (dapat melalui video) mengenai materi pembelajaran tersebut.
  10. Mahasiswa menilai bahwa perkuliahan daring sangat menguras tenaga dan pikiran karena harus di depan laptop maupun handphone setiap saat untuk mengerjakan tugas dan memantau perkuliahan.

Menurut beberapa ahli epidemiologi, pandemi COVID-19 dapat berlangsung hingga 1,5-2 tahun apabila tidak ditangani dengan serius. Hal tersebut dapat berdampak juga kepada aktivitas akademik, seperti perkuliahan dan bimbingan skripsi. Untuk itu, rekomendasi yang diberikan kepada Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES adalah sebagai berikut:

  1. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES meningkatkan intensitas imbauan kepada mahasiswa tentang protokol pencegahan COVID-19 dengan berbagai media/
  2. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES melakukan evaluasi dan continuous improvement kepada dosen tentang sistem perkuliahan daring, baik efektivitas maupun efisiensinya, seperti:
    • a. memberi penjelasan dengan video tutorial sebelum memberikan tugas kepada mahasiswa,
    • b. melaksanakan perkuliahan secara daring dengan tatap muka (video daring maupun luring), bukan dengan mengganti pertemuan dengan tugas yang dikumpulkan secara daring,
    • c. memberikan subsidi kuota internet,
    • d. tidak memberikan penugasan yang bersifat kelompok karena komunikasi antar anggota kelompok juga menggunakan kuota internet.
  3. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES melakukan evaluasi dan continuous improvement kepada dosen tentang response time bimbingan skripsi mahasiswa secara daring.

Narasi di atas merupakan Policy Brief yang berjudul “Mengoptimalkan Peran Perguruan Tinggi untuk Mengedukasi Mahasiswa tentang Pencegahan COVID-19 dan Mengatasi Hambatan Kegiatan Akademik secara Daring” yang ditulis oleh Lukman Fauzi, Sri Ratna Rahayu, Nur Siyam, Retno Wulandari, Eki Fadhilsansyah Azhar yang dapat diunduh disini