Home Berita Jika Tidak Diantisipasi, Kelahiran Pascapandemi Diprediksi Mencapai 420.000 Bayi

Jika Tidak Diantisipasi, Kelahiran Pascapandemi Diprediksi Mencapai 420.000 Bayi

73
0

Semarang (10/10) Baby Boom menjadi topik yang hangat diperbincangkan sejak adanya pandemi COVID-19 di Indonesia. BKKBN memperkirakan akan terjadi lonjakan potensi kelahiran pascapandemi sekitar 420.000 bayi. Jika tidak ditangani dengan tepat hal ini dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Hal inilah yang melatarbelakangi Hima Jurusan IKM menyelenggarakan Webinar dan Talkshow Kesehatan 2020 dengan tema “Baby Boom saat Pandemi COVID-19: Kabar Gembira atau Bencana?”.

Acara ini dibuka oleh Sekretaris Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Muhammad Azinar, S.K.M., M.Kes. yang dihadiri oleh 269 peserta. Webinar dan Talkshow Kesehatan kali ini diselenggarakan secara daring melalui Live Streaming via Zoom Cloud Meeting Apps dan Youtube.

Pembicara Webinar dan Talkshow Kesehatan 2020 adalah mereka yang telah ahli dan berpengalaman dalam bidangnya. Pembicara pertama yaitu Hj. Siti Atikoh Ganjar Pranowo, Ketua Tin Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah yang diwakilkan oleh Dra. Tjondrorini, M.Kes. Beliau menjelaskan mengenai topik peran PKK dalam pengendalian Baby Boom. Pembicara kedua adalah Martin Suanta, M.Si., Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah yang memaparkan topik tentang peluang dan tantangan BKKBN dalam pengendalian Baby Boom: Kabar Gembira atau Bencana.

Tjondrorini, M.Kes. menjelaskan bahwa dampak adanya baby boom ini dapat dirasakan pada berbagai aspek kehidupan seperti sosial, ekonomi, kesehatan, SDM, bahkan dampaknya tidak dirasakan saat ini saja. Oleh karena itu, PKK memiliki peran penting terhadap pengendalian baby boom, seperti dengan meningkatkan kapasitas kader PKK dalam melakukan sosialisasi, informasi, dan memberikan konseling mengenai KB di masa pandemi, mengoptimalkan Program KB ke dalam Program Jogo Tonggo.

Selanjutnya, Martin Suanta, M.Si. menjelaskan bahwa di masa pandemi COVID-19 ini rentan terjadinya kehamilan tidak diinginkan (KTD). Oleh karena itu, perlu adanya program KB untuk menghindari kehamilan tidak diinginkan. Akan tetapi, KB di masa pandemi ini memiliki banyak tantangan antara lain masyarakat takut untuk datang ke fasilitas kesehatan, adanya pembatasan kunjungan ke fasilitas kesehatan dan lain-lain.

Ariff Fathin F., Ketua Hima Jurusan IKM, mengucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta yang sangat luar biasa, bahkan webinar ini diikuti oleh tenaga kesehatan, praktisi, dan mahasiswa dari seluruh Indonesia. “Kami berharap webinar dan talkshow ini dapat meningkatkan literasi tentang dampak baby boom di masa sekarang dan yang akan datang sehingga kita memiliki persiapan matang untuk mengantisipasinya”, harap Ketua Hima Jurusan IKM.

Kontributor: Dinta Alfiyanti Rahayu