Home Berita Edisi COVID-19: Atasi Stres saat Work From Home

Edisi COVID-19: Atasi Stres saat Work From Home

2330
0

Semarang (14/4) Bagi sebagian orang, berada di rumah dalam waktu yang cukup lama tentu membosankan atau bisa saja tertekan karena adanya begitu banyak masalah di dalam rumah yang dihadapi terus menerus. Situasi ini bisa menjadi pemicu stres. Stres adalah reaksi alami dalam menghadapi situasi yang sulit, perasaan tidak normal akibat situasi tidak menyenangkan yang dihadapi.

Kenali tanda stres
Tanda dan gejala stres yang umum dan dapat menjadi perhatian adalah perasaan cemas atau khawatir yang terus menerus, merasa kewalahan, sulit berkonsentrasi, berubah suasana hati, mudah marah, sulit untuk bersantai, perubahan pola tidur, menggunakan obat terlarang, nyeri otot, diare, sembelit, mual dan pusing. Bila mengalami beberapa gejala diatas dalam waktu yang cukup lama, penting untuk mengatasinya segera.

Menggunakan pendekatan biopsikososialspiritual dalam menangani stres merupakan suatu strategi yang efektif. Pendekatan  ini memandang keberadaan manusia sebagai satu kesatuan yang utuh (aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual), saling berinteraksi dan mempengaruhi aspek satu dengan yang lain dalam memenuhi kebutuhannya untuk merespon suatu keadaan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi potensi stres dipandang dari pendekatan biopsikososialspiritual ini:

  1. Bersyukur

Sudahkah kita sering mengucap syukur dan menikmati apapun termasuk kesempatan yang Tuhan berikan saat ini ? Ternyata, jiwa yang bersyukur berkorelasi positif terhadap peningkatan kepuasan hidup seseorang.

  1. Tingkatkan ibadah

Saat ini mungkin bisa menjadi waktu yang tepat  untuk berniat atau lebih sering melakukan ibadah dengan kesungguhan hati dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Seraya berdoa agar semua harapan dikalbukan olehNya. Hasil studi membuktikan aktivitas ibadah dapat menurunkan gejala stres dan membentuk kondisi kesehatan mental yang positif.

  1. Aktivitas bersama keluarga

Hasil penelitian mengatakan bahwa aktivitas bersama keluarga meningkatkan kebahagiaan, mengembangkan diri dan  membangun hubungan kedekatan yang lebih baik dengan seluruh anggota keluarga.

  1. Membangun hubungan dengan orang lain

Hubungan yang baik dengan orang lain menjadi dukungan yang luar biasa saat kita sedang stres. Dukungan dari orang lain akan membantu kita dalam mengatasi stres dan membuat kita merasa nyaman saat menghadapinya. Ceritakan masalah, perasaan dan berdiskusi bagaimana cara mengatasinya dengan orang yang dipercaya seperti teman, saudara, orang tua, konselor atau psikolog. Meskipun ada social distancing, kita tetap bisa berinteraksi dengan siapa saja membahas topik-topik tertentu.

  1. Makan yang sehat

Beberapa studi menyatakan makanan yang sehat dan seimbang mampu menjaga dan melindungi suasana hati menjadi lebih baik. Namun makanan yang dikemas, kaya akan zat kimia tambahan dan pengawet serta tinggi gula bukan merupakan pilihan yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh.

  1. Olahraga

Aktivitas olahraga membantu mengembalikan kondisi tubuh ke arah keseimbangan yang normal dengan melepaskan zat kimia selama tubuh merespon stres. Pilih olahraga yang sesuai dan menyenangkan bagi diri kita, tetapkan tujuan dan lakukan dengan rutin. Dari segi waktu, bisa dimulai dari olahraga dengan intensitas yang ringan, sedang hingga berat,

  1. Istirahat

Berhentilah sejenak dari aktivitas dengan memiliki me-time, beristirahat yang cukup untuk mengembalikan kesegaran tubuh dan pikiran dan siap kembali bekerja dan membangun hubungan yang lebih baik dengan orang di sekitar kita. Selain itu mengurangi intensitas mendengarkan, membaca dan melihat berita yang menyebabkan stres juga menjadi cara agar kesehatan mental kita semakin baik.

  1. Bersikap positif

Mengubah sikap untuk tak lagi sering mengeluh terhadap tugas yang diberikan dan menerima keterbatasan yang ada merupakan  salah satu cara terbaik menurunkan stres. Menyikapi situasi yang dihadapi dengan positif merupakan cara yang efektif dalam mengembangkan diri menjadi lebih baik untuk saat ini dan masa depan bahkan membantu kita dalam memecahkan masalah. Kesempatan yang leluasa saat  ini bisa digunakan untuk berdiskusi, mencari literatur yang sesuai, membaca, menulis dan jika perlu bisa melakukan eksperimen di rumah untuk memperkaya dan menguasai ilmu.

  1. Lakukan aktivitas yang sesuai passion

Literatur mengatakan bahwa suatu aktivitas yang dilakukan dengan antusias dan dilandasi karena hal tersebut menarik perhatian, memberi kebahagiaan, kepuasan atau sesuatu yang dirindukan atau telah lama tidak dilakukan akan menimbulkan perasaan positif pada diri kita dan dapat meningkatkan rasa nyaman. Ingat kembali hal apa yang menarik perhatian. Cari informasi sebanyak-banyaknya, pelajari dan praktekkan. Meskipun baru langkah kecil, tapi dengan melakukannya sedikit demi sedikit dan berkesinambungan, penuh kesabaran dan melakukan perbaikan tentu akan mendapatkan hasil yang gemilang.

  1. Lihat dan benahi sekeliling

Hasil penelitian menunjukkan ruangan yang berantakan akan meningkatkan hormon kortisol, peningkat stres. Jadi  lihat di sekeliling kamar bahkan di sudut-sudut rumah, apa yang bisa dilakukan untuk membenahinya. Konsep 5 S (Seiri, Seiton, Seiso Seiketsu, Shitsuke) yang diadopsi dari budaya kerja Jepang bisa dilakukan. Singkirkan barang-barang yang tak dibutuhkan dan pindahkan ke tempat penyimpanan. Tata dan susun berdasarkan frekuensi pemakaian, mudah dijangkau, kemudahan akses mengambil dan mengembalikan serta keamanan. Semua barang pasti ada tempatnya. Bersihkan lingkungan dari semua sampah atau barang yang tak diperlukan lagi. Tulis hal-hal apa yang perlu diperhatikan  di kemudian hari untuk memenuhi prinsip perawatan dengan membuat prosedur atau aturan untuk membuat lingkungan menjadi rapi, bersih dan terawat. Terakhir, konsisten dan  disiplin untuk menjadikan prinsip ini menjadi sebuah kebiasaan baik. Dengan lingkungan yang selalu bersih dan rapi, akan membuat kerjapun menjadi nyaman dan fokus.

  1. Kelola waktu

Cara yang terakhir, atur waktu dengan baik. Pengelolaan  waktu yang baik membuat kehidupan pribadi, pekerjaan, keluarga, spiritual berjalan seimbang. Buat jadwal pengerjaan, prioritas, durasi serta target penyelesaian sesuai dengan kemampuan dan situasi. Laksanakan semua tugas dengan waktu yang telah disusun penuh komitmen dan disiplin, hindari menunda dan jauhkan gangguan.

Dengan kita mengatasi stres, kesehatan mental menjadi semakin baik, tercapai keseimbangan dan kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan. Tetap dirumah, tetap efektif dan produktif.

Sumber:
1. Arulsubila M, Subasree R. Parenting and Psychological Wellbeing of Adolescents-An Intervention Study. J Humanit Soc Sci [Internet]. 2017;5:01–9. Tersedia pada: www.iosrjournals.org.
2. Bartkowski JP, Acevedo GA, Van Loggerenberg H. Prayer, meditation, and anxiety: Durkheim revisited. Religions. 2017;8(9).
3. Davis M, Esthelman ER, McKay M. The Relaxation & Stress Reduction Work Book. Kayla Sussell, editor. Oxford University Press; 2006.
4. Foundation MH. How to manage and reduce stress [Internet]. Mental Health Foundation. Scotland; 2020. Tersedia pada: https://www.mentalhealth.org.uk/publications/how-manage-and-reduce-stress.
5. Häfner A, Stock A, Oberst V. Decreasing students’ stress through time management training: an intervention study. Eur J Psychol Educ. 2015;30(1):81–94.
6. Kabir SMS. Stress and Time Management. Essentials Couns. 2015;(June):205–46.
7. National Center for Injury Prevention and Control D of VP. Coping With Stress [Internet]. Center for Disease Control and Prevention. 2019. Tersedia pada: https://www.cdc.gov/violenceprevention/suicide/copingwith-stresstips.html.
8. Pascoe MC, Hetrick SE, Parker AG, Pascoe MC, Hetrick SE, The AGP, et al. The impact of stress on students in secondary school and higher education education. Int J Adolesc Youth [Internet]. 2020;25(1):104–12. Tersedia pada: https://doi.org/10.1080/02673843.2019.1596823.
9. Rastogi R, Arora N, Tawar PS. Statistical Analysis for Effect of Positive Thinking on Stress Management and Creative Problem Solving for Adolescents. Proc 12th INDIACom. 2018;(July):245–51.
10. Robert J. Vallerand. Passion and Psychological Well-Being. In: The Psychology of Passion: A Dualistic Model [Internet]. 2015. Tersedia pada: https://www.oxfordscholarship.com/view/10.1093/acprof:oso/9780199777600.001.0001/acprof-9780199777600-chapter-8.
11. Saad Shaikh P, Alam AN, Ahmed KN, Ishtiyak S, Hasan SZ. Review of 5S Technique. Int J Sci Eng Technol Res. 2015;4(4):4.
12. Sarafino EP, Smith TW. Health Psychology Biopsychosocial Interactions. Seventh Ed. John Willey & Sons (Asia) Pte Ltd; 2012.
13. Sulmasy DP. A biopsychosocial-spiritual model for the care of patients at the end of life. Gerontologist [Internet]. 2002;42. Tersedia pada: https://doi.org/10.1093/geront/42.suppl_3.24.
14. Yaribeygi H, Panahi Y, Sahraei H, Johnston TP. Review article : The Impact of Stress on Body Function : A Review. 2017;1057–72.
15. Yildirim M, Alanazi Z. Gratitude and Life Satisfaction: Mediating Role of Perceived Stress. Int J Psychol Stud. 2018;10(3):21.

 

Penulis: Bertakalswa Hermawati, S.Psi., M.Si.
Psikolog, Dosen Promosi Kesehatan Jurusan IKM